Terima Tamu dari Kementerian, Desa Tunggulsari Pati Siap Bangkitkan Geliat Pariwisata

PATI, Kompasnewsjateng.com – Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati Jawa Tengah mendapat kunjungan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Direktorat Riset Teknologi dan Pengabdian Masyarakat, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi, akademisi dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), serta dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati yang diwakilkan Dinas Koperasi dan UMKM (DinkopUMKM).

Dalam kunjungan tersebut, dilakukan pertemuan bertajuk Program Kosabangsa bersama dengan masyarakat dan juga pelaku UMKM di halaman Balai Desa Tunggulsari, Sabtu 9 November 2024. Dengan tema “Akselerasi Perwujudan Integrated Sustainable Tourism di Daerah Pesisir Desa Tunggulsari Pati Melalui Pendekatan Community Based Tourism”.

Setyo Wahyudi selaku Kades setempat menuturkan, adanya pertemuan ini dalam rangka membangkitkan kembali sektor pariwisata yang ada di Desa Tunggulsari. Pasalnya, setelah adanya bencana banjir rob dan abrasi pantai yang terjadi pada tahun 2021 lalu, Desa Tunggulsari sebagai salah desa wisata yang diresmikan pada 2019 mulai kehilangan eksistensi.

“Jadi hari ini ada pertemuan bersama antara masyarakat Desa Tunggulsari terutama pelaku UMKM, akademisi dari Unnes, dan juga tamu dari kementerian dan dari Dinas UMKM Pati. Harapannya mereka bisa membantu untuk membangkitkan kembali geliat wisata yang ada disini,” kata dia.

Sebagaimana diketahui, Desa Tunggulsari menjadi salah satu desa wisata yang menyimpan berbagai keindahan alam. Mulai dari hutan mangrove hingga pemandangan laut yang memukau. Tak hanya itu, adanya budidaya ikan Nila Salin menjadi daya tari tersendiri bagi para pecinta kuliner seafood.

Selain bisa menikmati keindahan pantai dan hutan mangrove, para pengunjung juga bisa memancing di kolam milik warga yang sudah dimodif sebagai wahana rekreasi keluarga.

Sementara itu, kehadiran Pemkab Pati melalui Kabid UMKM Hendri Kristianto, mendorong kepada para pelaku UMKM yang ada di Desa Tunggulsari untuk bisa mengembangkan hasil budidaya Nila Salin menjadi produk kuliner yang memiliki nilai ekonomi lebih.

Ia yakin, perpaduan antara desa wisata dan potensi budidaya ikan Nila Salin akan mampu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Tunggulsari melalui pendampingan dari pemerintah.

“Disini kan potensi yang unggul selain wisatanya adalah budidaya ikan Nila Salin. Jadi harapannya masyarakat tidak hanya menjual dalam bentuk mentah. Bisa diolah semisal menjadi sosis agar nilai ekonomisnya ini juga bertambah,” ucap Kris.

Tentunya dengan adanya pertemuan ini, diharapkan peranan dari akademisi dan kementerian bisa memajukan sektor pariwisata, termasuk perikanan, dan UMKM yang ada di Tunggulsari. (is)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *